Senin, 10 September 2012

aku, tupai, gajah dan semut

| | 0 komentar


Sekarang aku sudah sampai di ujung letihku, letih terhadap semua logika ini, sekarang izinkan aku sebentar saja melayang dalam khayalku

melihat apa yang ingin ku lihat menyentuh apa yang ingin ku sentuh

di bawah bayang bayang daun aku terbaring menikmati hangatnya sentuhan mentari, angin sepoi-sepoi menyebarkan bau tanah yang sejuk, rumput-rumput runcing menusuk-nusuk punuk, riuh kicau burung berpaduan dengan gesekan dedaunan oleh ranting-ranting yang bergoyang
sesekali ku lihat tupai melompat dari dahan ke dahan, dia begitu lincah dan cekatan, bagaimana kalau jatuh dari ketinggian? aku akan menangkapnya batinku membayangkan
belum selasai ku melamun, tupai itu bertolak pinggang di hadapku, oh dia sungguh lucu, mulut mungilnya berkoat kamit mengeluarkan suara seperti radio rusak, aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tampaknya dia sedang mengomeliku
 aku coba meangkapnya tapi belum sampai tanganku menyentuh bulunya, kaki dan tanganku diikat oleh tupai lainnya
aku hanya bisa diam dalam kebingunganku, setelah si tupai selesai mengikat kaki dan tanganku dia memberi aba-aba pada seekor gajah besar dengan tali di belalainya, aku baru mengerti namun sebelum ku sempat berucap aku sudah tergantung terbalik
aku sungguh tak mengerti kenapa meraka melakukan ini terhadapku, tapi aku lebih bingung terhadap apa yang mereka ucapkan
kemudian langit tiba-tiba mendung, angin berhembus kencang mengayun-ayunkan tubuhku kesana-kemari aku hanya bisa berteriak-teriak, sebenarnya sedikit seru tapi suasana yang bertolak  belakang dari sebelumnya membuatku takut dan ketakutanku bertambah parah saat ku menyadari tubuhku di gerumuti semut merah, tidak masalah jika semutnya satu tapi ini mungkin lebih dari seribu
aku hanya bisa berteriak dan mengoyangkan tubuhku agar mereka berjatuhan tapi sia sia mereka malah menggigitiku rasanya sangat sakit, seekujur tubuhku tersa perih dan gatal, kebingungan dan rasa sakit ini sungguh menyikasaku, aaaaaaaaa! aku teriak sekencang kencangnya
tiba-tiba semut-semut itu hilang dan aku sudah berpijak di tanah, aku sangat bersyukur penderitaanku tlah usai tapi ada yang ganjal, aku perhatikan sekalilingku, pohon-pohon tampak lebih tinggi dari yang sebelumnya dan itu tanaman apa itu bentuknya seperti rumput yang begitu besar
aku tertegun menyadari bahwa itu memanglah rumput, aku mengecil?
lalu ku lihat kakiku, tanganku oh tidak apa ini? aku meraba tubuhku, wajahku, aku ini apa? aku menangis tapi kenapa air mataku tak keluar, aku raba mataku kenapa mataku seperti ini? tangisku makin kencang tapi air mataku tetap tak keluar
aku benar benar bingung dan takut setengah mati dengan semua yang ku alami, aku berlari sekencang-kencangnya aku ingin pulang

ayo tebak si aku ini berubah jadi apa?
Read more...

Labels

Bacaan Fika

Pages