Sekarang aku sudah sampai di ujung letihku, letih terhadap
semua logika ini, sekarang izinkan aku sebentar saja melayang dalam khayalku
melihat apa yang ingin ku lihat menyentuh apa yang ingin ku
sentuh
di bawah bayang bayang daun aku terbaring menikmati hangatnya
sentuhan mentari, angin sepoi-sepoi menyebarkan bau tanah yang sejuk, rumput-rumput
runcing menusuk-nusuk punuk, riuh kicau burung berpaduan dengan gesekan
dedaunan oleh ranting-ranting yang bergoyang
sesekali ku lihat tupai melompat dari dahan ke dahan, dia
begitu lincah dan cekatan, bagaimana kalau jatuh dari ketinggian? aku akan
menangkapnya batinku membayangkan
belum selasai ku melamun, tupai itu bertolak pinggang di
hadapku, oh dia sungguh lucu, mulut mungilnya berkoat kamit mengeluarkan suara seperti
radio rusak, aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tampaknya dia sedang
mengomeliku
aku coba meangkapnya
tapi belum sampai tanganku menyentuh bulunya, kaki dan tanganku diikat oleh
tupai lainnya
aku hanya bisa diam dalam kebingunganku, setelah si tupai
selesai mengikat kaki dan tanganku dia memberi aba-aba pada seekor gajah besar
dengan tali di belalainya, aku baru mengerti namun sebelum ku sempat berucap
aku sudah tergantung terbalik
aku sungguh tak mengerti kenapa meraka melakukan ini
terhadapku, tapi aku lebih bingung terhadap apa yang mereka ucapkan
kemudian langit tiba-tiba mendung, angin berhembus kencang
mengayun-ayunkan tubuhku kesana-kemari aku hanya bisa berteriak-teriak,
sebenarnya sedikit seru tapi suasana yang bertolak belakang dari sebelumnya membuatku takut dan
ketakutanku bertambah parah saat ku menyadari tubuhku di gerumuti semut merah,
tidak masalah jika semutnya satu tapi ini mungkin lebih dari seribu
aku hanya bisa berteriak dan mengoyangkan tubuhku agar
mereka berjatuhan tapi sia sia mereka malah menggigitiku rasanya sangat sakit,
seekujur tubuhku tersa perih dan gatal, kebingungan dan rasa sakit ini sungguh
menyikasaku, aaaaaaaaa! aku teriak sekencang kencangnya
tiba-tiba semut-semut itu hilang dan aku sudah berpijak di
tanah, aku sangat bersyukur penderitaanku tlah usai tapi ada yang ganjal, aku
perhatikan sekalilingku, pohon-pohon tampak lebih tinggi dari yang sebelumnya
dan itu tanaman apa itu bentuknya seperti rumput yang begitu besar
aku tertegun menyadari bahwa itu memanglah rumput, aku
mengecil?
lalu ku lihat kakiku, tanganku oh tidak apa ini? aku meraba
tubuhku, wajahku, aku ini apa? aku menangis tapi kenapa air mataku tak keluar,
aku raba mataku kenapa mataku seperti ini? tangisku makin kencang tapi air
mataku tetap tak keluar
aku benar benar bingung dan takut setengah mati dengan semua
yang ku alami, aku berlari sekencang-kencangnya aku ingin pulang
ayo tebak si aku ini berubah jadi apa?